Pernahkah anda mendengar tentang pantai Papuma atau pantai Watu Ulo?. Pasti masih banyak yang belum tau. Kebanyakan dari kita masih lebih kenal dengan Kuta, Bali. Namun jangan salah, pantai ini sangat indah, pantai pasir putih dengan pantai karangnya, dan deburan ombaknya, luar biasa menyegarkan mata.
Papuma adalah pantai yang terletak di selatan Jember, Jawa Timur. Pantai ini bisa ditempuh dalam 1 jam perjalanan dari Jember. Akses umum ke pantai ini agak sulit dikarenakan jarangnya angkutan kota ke daerah ini. Pantai Watu Ulo sendiri merupakan pantai dengan panjang pantai yang lebar, secara administratif Watu Ulo dikelola oleh Pemerintah daerah Jember. Keadaan pantainya sendiri sebenarnya amat indah, namun hal ini tidak dibarengi dengan fasilitas yang memadai, mulai dari kurangnya tenaga kebersihan, sampai dengan tempat parkir kendaraan yang seadanya. Alhasil pantainya seperti tidak ada yang mengurus, sampah cukup banyak bertebaran di pantai.
![]() |
| Pantai Watu Ulo |
![]() |
| Tanjung Pamuma - Wisata Jember |
Fasilitas di pantai papuma, cukup memadai, restoran, tempat menginap, masjid, serta toilet umum ada di pantai ini. Namun yang disayangkan, masih banyak sampah yang dibuang pengunjung di pantai ini. Dari banyak pantai yang pernah saya kunjungi pantai ini masih jadi yang terbaik.
![]() |
| Pantai Karang Papuma – Wisata Jember |
![]() |
| Menikmati sore hari di wisata Jember |
Artikel lainnya:
Saya pun menggerakkan motor, ke arah barat, menaiki jalanan aspal menuju kawasan Pantai Pasir Putih Malikan atau disingkat Papuma dan Tanjung Papuma. Pantai dan tanjung itu terletak di sebelah barat pantai Watu Ulo. Dipisahkan tebing tinggi dan kawasan Gunung Wanawisata Watangan.
Secara geografis, pantai berpasir putih yang dikelilingi kawasan hutan lindung Perum perhutani itu terletak di kawasan wisata hutan dan pantai yang memiliki luas sekitar 50 hektare di Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan.
Nama Papuma merupakan akronim dari Pasir Putih-Malikan. Kata ”tanjung” ditambahkan di depannya, untuk menggambarkan adanya sebuah daratan yang menjorok ke laut arah barat daya dari wilayah itu. Selain pantainya, hutan yang terletak di sisi lainnya juga jadi daya tarik obyek wisata ini.
Jika pantai Watu Ulo dikelola pemerintah desa dan Dinas Pariwisata Kabupaten Jember, Kawasan Pantai dan Tanjang Papuma dikelola Perum Perhutani KPH Jember. Tentu saja, seperti pengunjung lainnya, saya pun harus kembali merogoh kocek Rp. 7.000 untuk membayar tiket masuk ke kawasan itu.
Untuk mencapai Pantai dan Tanjung Papuma, saya harus memacu motor dengan gigi 1 atau 2, akibat jalanan yang naik turun. Setelah menembus kawasan hutan jati yang tak lagi lebat itu, akhirnya saya tiba di sisi selatan Gunung Watangan yang berbatasan langsung dengan laut selatan.
Pantai Tanjung Papuma memang merupakan salah satu tempat wisata pantai yang menjadi rujukan wisatawan lokal dan mancanegara. Pantai yang terletak di Desa Lohjejer, Kecamatan Wuluhan, itu menyajikan hamparan pasir putih di bibir laut. Di pasir tersebut para pengunjung bisa bermain bola. Sedangkan bagi yang ingin menghabiskan sore bisa sekadar duduk-duduk di pasir tersebut.
Di pantai dekat pasir putih itu pula, bisa kita temukan puluhan perahu nelayan yang ditambatkan. “Bagi sebagian pengunjung perahu yang ditambatkan akan menjadi pemandangan tersendiri tetapi bagi yang lain tali yang digunakan untuk menambatkan perahu sering mengganggu permainan bola pantai.Yah namanya pengunjung keinginannya beda-beda tetapi kita tetap harus menampung keinginan nelayan,” ujar Sudarwi, salah satu staf pengelola Pantai-Tanjung Papuma.
Puluhan perahu tersebut memang milik nelayan pantai itu. Setiap pagi dan siang mereka mendarat dengan menurunkan hasil tangkapan mereka. Para pengunjung bisa langsung membeli ikan dari nelayan dengan harga yang relatif lebih murah daripada harga di pasar.
Ketika sang ombak sedang bersahabat, kita juga dapat mendekati beberapa “atol” atau pulau karang, yang terletak sekitar dua mil dari pantai ke tengah teluk. Dari kejauhan pulau-pulau tanpa penghuni itu tampak menyerupai seekor katak raksasa.
Keasrian panorama atol-atol di sekitar Papuma akan semakin elok bila dipandang dari “Sitihinggil”, sebutan untuk sebuah menara di atas bukit di ujung barat Tanjung Papuma. Menara itu sengaja dibuat oleh pihak Perum Perhutani Jember sebagai tempat pelancong menatap seluruh panorama di kawasan Papuma, sekaligus untuk tempat pemantauan keamanan satwa-satwa yang ada di kawasan itu.
Dari sana pula setiap pengunjung bisa menikmati pemandangan gugusan pulau-pulau karang kecil sekaligus memancing. Pulau-pulau karang yang agak besar itu, sudah memiliki nama-nama dewa dalam dunia pewayangan yakni Batara Guru, Kresna, dan Narada.
Di pantai ini, hawanya sejuk. Tepian pantai penuh pepohonan rimbun nan hijau seperti pandan laut, palem hutan, serut, dan beragam jenis pohon lainnya — sebuah kawasan hutan Gunung Watangan dengan berbagai satwa yang dilindungi.
Sekitar 2 kilometer di arah barat pantai pasir putih, kita bisa melihat Tanjung Papuma. Onggokan daratan kecil yang menjorok ke laut itu juga menyimpan beragam flora dan fauna khas tropis. Sekitar 500 meter di sebelah barat Tanjung Papuma, ada Pantai Malikan. Seperti halnya sembilan tahun lalu, saat ini pun saya masih merasa betah di pantai landai berpasir putih itu. Keelokan kawasan wisata pantai dan Tanjung Papuma masih terjaga. Bersih dan dapat dinikmati dalam cuaca apa pun, baik di musim kemarau maupun ketika musim hujan tiba.
Meski ombak pantai Tanjung Papuma cukup tenang, namun hampir setiap 3 menit saya menyaksikan gulungan ombak setinggi 3-4 meter yang datang dari arah selatan. Gulungan ombak tinggi itu menerpa gugusan atol (pulau karang) yang tersebar sekitar 50 hingga 100 meter dari bibir pantai. Permukaan laut yang berwarna hijau kebiru-biruan selalu mengundang hasrat untuk berenang atau sekadar menyentuhkan kaki di riak ombak yang bergulir ke pantai. Pasir pantai yang putih dan sangat halus begitu terasa di tapak kaki saya yang melepaskan sepatu sandal.
Sekitar 40 menit memuaskan diri di kawasan pantai pasir putih itu saya kembali menaiki motor, melewati jalanan aspal berliku menuju Tajung Papuma di arah barat. Rupanya di kawasan ini cukup ramai. Kebanyakan muda-mudi tampak asyik berkencan di atas motor yang mereka parkir di pinggir jalan yang terletak sekitar 7 meter di atas pantai pasir putih itu.
Setelah memarkir motor dan mengamankannya dengan kunci roda, saya menapaki tangga beton, menanjak, menuju “Sitihinggil”, sebutan untuk sebuah menara di atas bukit di ujung barat Tanjung Papuma. Menara itu sengaja dibuat oleh pihak Perum Perhutani Jember sebagai tempat pelancong yang hendak menikmati keindahan hampir seluruh wilayah pantai dan Tanjung Papuma dari ketinggian 15 meter.
Aha…., di pelataran Sitihinggil yang luasnya sekitar 6 X 6 meter, dengan 6 tiang dan atap genting di bangunan tanpa dinding itu, rupanya ada tiga pasang muda-mudi yang juga asyik bercengkrama. Seolah tak mempedulikan kedatangan saya, mereka menikmati suasana di beberapa sudut bukit Tanjung Papuma, melihat gugusan atol dan deretan ombak dari ketinggian.
Beberapa menit kemudian, dua orang petugas Wanawisata berseragam menyusul naik. Mereka ramah dan bersahabat, meski tampak garang dengan setelan baju hijau. “Tempat ini, memang ramai. Jadi favorit anak-anak muda pacaran, Mas. Jadi harus
sering diawasi, jangan sampai mereka berbuat yang tidak-tidak,” tutur Solekan (45) salah seorang petugas.
sering diawasi, jangan sampai mereka berbuat yang tidak-tidak,” tutur Solekan (45) salah seorang petugas.
Sekitar 20 menit berlalu tanpa terasa. Tak terasa, sebotol besar air mineral dan 3 bungkus roti gulung yang jadi ‘ransum’ saya tandas, untuk ngobrol bersama Solekan dan Seturiyono, dua petugas itu. Keduanya lantas saya ajak bergerak turun.
Mereka dengan senang hati ‘mengantar’ saya dengan motor trailnya menyusuri jalan aspal ke arah barat, menuju kawasan pantai yang baru tahun 2000 lalu dibuka oleh Perhutani dan disebut dengan nama Pantai Malikan. Wajah Malikan bukanlah hamparan pasir hitam atau putih, tapi lebih berupa karang-karang pipih yang mirip kerang raksasa berjajar di sepanjang bentangan pantai yang menghadap ke barat.
Karang-karang kecil berwarna-warni mudah ditemui di sini. Ini merupakan pecahan-pecahan terumbu karang yang terbawa ombak. Bila mujur, kita juga bisa menemukan lobster di sela-sela bebatuan pipih di pantai Malikan. Apalagi bila air laut sedang surut. Udang-udang yang oleh nelayan setempat disebut sebagai urang barong itu memang selalu terdampar saat ombak surut. “Deburan ombak akan membolak-balikan batu yang ada di pantai tersebut. Itulah sebabnya, kenapa pantai itu disebut pantai Malikan,” kata Seturiyono.
Kawasan pantai Papuma dan Malikan juga menyimpan beberapa flora yang bernilai tinggi, seperti kayu Balsa. Kayu jenis itu biasanya jenis kayu yang ringan tetapi memiliki kekuatan lentur yang cukup baik. Kayu ini biasa digunakan oleh para penggemar ‘Aero-modeling ‘ sebagai bahan pembuatan pesawat terbang model, para arsitek dan mahasiswa arsitektur sebagai bahan untuk pembuatan maket bangunan (maquette), karena kayu ini sangat ringan tetapi kuat dan mudah dikerjakan.
Selain itu, kayu cendana yang harum juga masih mudah ditemui di beberapa sudut Tanjung Papuma. Pandan laut dan Palem yang menjadi ciri khas utama tepian pantai Malikan juga mudah kita temui. Kawasan wisata yang tenang ini juga menyimpan
berbagai satwa di antaranya Biawak dan Lutung (kera hitam) yang sesekali keluar dari tempat persembuyiannya.
berbagai satwa di antaranya Biawak dan Lutung (kera hitam) yang sesekali keluar dari tempat persembuyiannya.
Agak masuk ke arah utara kawasan hutan di sebelah Pantai Malikan itu, terdapat peninggalan bersejarah berupa goa eks Perang Dunia II yang masih berdiri tegar menganga. Konon, pada zaman pendudukan Jepang, wilayah Gunung Watangan di sekitar Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma itu sempat dijadikan benteng pertahanan dan pengintaian bala serdadu musuh yang mau menyusup daratan melalui pantai. Benteng Jepang yang berjumlah lima buah tersebut oleh masyarakat setempat disebut sebagai Goa Jepang dan merupakan salah satu lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.
Di samping Goa Jepang, di sebelah Watu Ulo ada sebuah Goa Lawa (Goa Kelelawar) yang dihuni ratusan ribu kelelawar. Goa ini bisa dimasuki oleh pengunjung dengan menyusuri dan melewati pantai berpasir. Karena tempatnya yang sunyi dari keramaian, goa ini sering dijadikan tempat bermeditasi bagi orang-orang tertentu, apalagi mengingat goa ini mempunyai kedalaman 100 meter.
Menurut Cahyono dan Udin, konon, goa ini dipercaya sebagai tempat bersemedinya Patih Nambi.
Setelah sempat melihat-lihat gua Jepang dan kelelawar dari arah luar, kami pun kembali mengitari jalan aspal dalam hutan hingga mencapai puncak perbukitan. Dari puncak bukit akan terlihat jika Tanjung Papuma tersebut berbentuk kerucut.
* Nikmatnya Ikan Bakar
Berwisata di Papuma terasa tak lengkap bila kita tak mengenyam kehidupan nelayan setempat di saat senja tiba. Beberapa jam menjelang matahari terbenam, puluhan nelayan asal dusun Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, selalu tampak menepikan perahu dan jaringnya. Hasil tangkapan mereka berupa ikan kerapu, putihan, kakap, tongkol, maupun tuna, Cumi-cumi dan lobster dapat langsung dibeli dan dibakar di atas perapian alam dari ranting-ranting kayu kering di tepi pantai.
Berwisata di Papuma terasa tak lengkap bila kita tak mengenyam kehidupan nelayan setempat di saat senja tiba. Beberapa jam menjelang matahari terbenam, puluhan nelayan asal dusun Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, selalu tampak menepikan perahu dan jaringnya. Hasil tangkapan mereka berupa ikan kerapu, putihan, kakap, tongkol, maupun tuna, Cumi-cumi dan lobster dapat langsung dibeli dan dibakar di atas perapian alam dari ranting-ranting kayu kering di tepi pantai.
Lelah setelah seharian bermain di pantai ataupun berenang di laut, pengunjung bisa menikmati kelezatan ikan bakar.
Setidaknya ada tujuh warung makan yang menyajikan ikan bakar sebagai menu khas daerah tersebut.”Per kilo ikan bakar kita jual Rp 20.000 sampai Rp 30.000, tergantung jenis ikan yang kita jual. Jika ikannya jenis yang enak ya makin mahal,” ujar P.Lukman (41), salah satu penjual ikan bakar.
Ikan bakar itu disajikan dengan sambal kecap dan terasi. Pembeli bisa membawa ikan sendiri setelah membeli di nelayan atau juga langsung memesan kepada warung-warung yang ada di tempat itu. Selain ikan bakar, es kelapa muda yang disajikan dengan batok kelapanya juga menjadi ciri khas warung-warung di Tanjung Papuma.
Penikmat ikan bakar dan es kelapa muda akan langsung bisa memandang luasnya laut, sebab warung-warung tersebut menghadap hamparan laut. Namun jika makan di pagi atau senja hari, kita akan mudah bertemu dengan beberapa hewan yang dilindungi seperti kera berbulu abu-abu, hitam dan oranye, ayam hutan dan juga biawak. Kera itu keluar dari hutan yang berada di belakang warung-warung tersebut. “Terkadang jadi tontotan anak-anak kecil,” kata P.Lukman. Kera-kera tersebut dengan tenang bergelantungan di pohon-pohon yang tumbuh di dekat warung.
Bagi yang ingin bermalam di kawasan ini, di Pantai Papuma tersedia 21 pondok wisata. Kamar cukup bersih, terawat semua dengan pendingin ruangan, tv dan tersedia air panas dengan tarif Rp.150 ribu. “Tarifnya antara Rp 150.000 sampai Rp 400.000 per malam. Ada yang hanya satu kamar tapi ada juga yang bisa disewa satu rumah untuk satu keluarga seperti vila itu, tarifnya Rp 450.000 tersebut,” kata Solekan.
Sedangkan bagi yang ingin berkemah, tempat wisata ini juga menyediakan lahan untuk camping. “Tetapi jika hanya sedikit orang dan dia minta di pinggir pantai ya kita sediakan juga. Tetapi pagi pukul 07.00 WIB sudah harus dibongkar tendanya karena kita sebenarnya punya lahan camping di belakang wisma,” tambahnya.
Bagi pengunjung yang hobi memancing, dapat menyalurkan hobinya di sepanjang pantai. Bisa juga ikut memancing dengan perahu nelayan pada tempat-tempat pencarian ikan atau menggunakan perahu sewa, tentunya pada musim yang memungkinkan, yaitu pada saat ombak sedang bersahabat.
Hari menjelang magrib. Cuaca cerah kini kembali memudar. Mendung tebal tampak mulai bergulung ditimpali angin kencang.Ini pertanda hujan akan kembali mengguyur kawasan itu. Saya memutuskan untuk kembali pulang, kembali memacu motor menerobos kawasan hutan Watangan, naik turun perbukitan, dan meluncur melewati jalur utama Desa Sumberrejo. Rasa pegal di pundak dan pantat karena berjam-jam diatas motor, serasa terobati setelah menikmati kemolekan pantai-pantai Samudera Hindia di pesisir selatan Jember itu.Artikel lainnya:
Saya pun menggerakkan motor, ke arah barat, menaiki jalanan aspal menuju kawasan Pantai Pasir Putih Malikan atau disingkat Papuma dan Tanjung Papuma. Pantai dan tanjung itu terletak di sebelah barat pantai Watu Ulo. Dipisahkan tebing tinggi dan kawasan Gunung Wanawisata Watangan.
Secara geografis, pantai berpasir putih yang dikelilingi kawasan hutan lindung Perum perhutani itu terletak di kawasan wisata hutan dan pantai yang memiliki luas sekitar 50 hektare di Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan.
Nama Papuma merupakan akronim dari Pasir Putih-Malikan. Kata ”tanjung” ditambahkan di depannya, untuk menggambarkan adanya sebuah daratan yang menjorok ke laut arah barat daya dari wilayah itu. Selain pantainya, hutan yang terletak di sisi lainnya juga jadi daya tarik obyek wisata ini.
Jika pantai Watu Ulo dikelola pemerintah desa dan Dinas Pariwisata Kabupaten Jember, Kawasan Pantai dan Tanjang Papuma dikelola Perum Perhutani KPH Jember. Tentu saja, seperti pengunjung lainnya, saya pun harus kembali merogoh kocek Rp. 7.000 untuk membayar tiket masuk ke kawasan itu.
Untuk mencapai Pantai dan Tanjung Papuma, saya harus memacu motor dengan gigi 1 atau 2, akibat jalanan yang naik turun. Setelah menembus kawasan hutan jati yang tak lagi lebat itu, akhirnya saya tiba di sisi selatan Gunung Watangan yang berbatasan langsung dengan laut selatan.
Pantai Tanjung Papuma memang merupakan salah satu tempat wisata pantai yang menjadi rujukan wisatawan lokal dan mancanegara. Pantai yang terletak di Desa Lohjejer, Kecamatan Wuluhan, itu menyajikan hamparan pasir putih di bibir laut. Di pasir tersebut para pengunjung bisa bermain bola. Sedangkan bagi yang ingin menghabiskan sore bisa sekadar duduk-duduk di pasir tersebut.
Di pantai dekat pasir putih itu pula, bisa kita temukan puluhan perahu nelayan yang ditambatkan. “Bagi sebagian pengunjung perahu yang ditambatkan akan menjadi pemandangan tersendiri tetapi bagi yang lain tali yang digunakan untuk menambatkan perahu sering mengganggu permainan bola pantai.Yah namanya pengunjung keinginannya beda-beda tetapi kita tetap harus menampung keinginan nelayan,” ujar Sudarwi, salah satu staf pengelola Pantai-Tanjung Papuma.
Puluhan perahu tersebut memang milik nelayan pantai itu. Setiap pagi dan siang mereka mendarat dengan menurunkan hasil tangkapan mereka. Para pengunjung bisa langsung membeli ikan dari nelayan dengan harga yang relatif lebih murah daripada harga di pasar.
Ketika sang ombak sedang bersahabat, kita juga dapat mendekati beberapa “atol” atau pulau karang, yang terletak sekitar dua mil dari pantai ke tengah teluk. Dari kejauhan pulau-pulau tanpa penghuni itu tampak menyerupai seekor katak raksasa.
Keasrian panorama atol-atol di sekitar Papuma akan semakin elok bila dipandang dari “Sitihinggil”, sebutan untuk sebuah menara di atas bukit di ujung barat Tanjung Papuma. Menara itu sengaja dibuat oleh pihak Perum Perhutani Jember sebagai tempat pelancong menatap seluruh panorama di kawasan Papuma, sekaligus untuk tempat pemantauan keamanan satwa-satwa yang ada di kawasan itu.
Dari sana pula setiap pengunjung bisa menikmati pemandangan gugusan pulau-pulau karang kecil sekaligus memancing. Pulau-pulau karang yang agak besar itu, sudah memiliki nama-nama dewa dalam dunia pewayangan yakni Batara Guru, Kresna, dan Narada.
Di pantai ini, hawanya sejuk. Tepian pantai penuh pepohonan rimbun nan hijau seperti pandan laut, palem hutan, serut, dan beragam jenis pohon lainnya — sebuah kawasan hutan Gunung Watangan dengan berbagai satwa yang dilindungi.
Sekitar 2 kilometer di arah barat pantai pasir putih, kita bisa melihat Tanjung Papuma. Onggokan daratan kecil yang menjorok ke laut itu juga menyimpan beragam flora dan fauna khas tropis. Sekitar 500 meter di sebelah barat Tanjung Papuma, ada Pantai Malikan. Seperti halnya sembilan tahun lalu, saat ini pun saya masih merasa betah di pantai landai berpasir putih itu. Keelokan kawasan wisata pantai dan Tanjung Papuma masih terjaga. Bersih dan dapat dinikmati dalam cuaca apa pun, baik di musim kemarau maupun ketika musim hujan tiba.
Meski ombak pantai Tanjung Papuma cukup tenang, namun hampir setiap 3 menit saya menyaksikan gulungan ombak setinggi 3-4 meter yang datang dari arah selatan. Gulungan ombak tinggi itu menerpa gugusan atol (pulau karang) yang tersebar sekitar 50 hingga 100 meter dari bibir pantai. Permukaan laut yang berwarna hijau kebiru-biruan selalu mengundang hasrat untuk berenang atau sekadar menyentuhkan kaki di riak ombak yang bergulir ke pantai. Pasir pantai yang putih dan sangat halus begitu terasa di tapak kaki saya yang melepaskan sepatu sandal.
Sekitar 40 menit memuaskan diri di kawasan pantai pasir putih itu saya kembali menaiki motor, melewati jalanan aspal berliku menuju Tajung Papuma di arah barat. Rupanya di kawasan ini cukup ramai. Kebanyakan muda-mudi tampak asyik berkencan di atas motor yang mereka parkir di pinggir jalan yang terletak sekitar 7 meter di atas pantai pasir putih itu.
Setelah memarkir motor dan mengamankannya dengan kunci roda, saya menapaki tangga beton, menanjak, menuju “Sitihinggil”, sebutan untuk sebuah menara di atas bukit di ujung barat Tanjung Papuma. Menara itu sengaja dibuat oleh pihak Perum Perhutani Jember sebagai tempat pelancong yang hendak menikmati keindahan hampir seluruh wilayah pantai dan Tanjung Papuma dari ketinggian 15 meter.
Aha…., di pelataran Sitihinggil yang luasnya sekitar 6 X 6 meter, dengan 6 tiang dan atap genting di bangunan tanpa dinding itu, rupanya ada tiga pasang muda-mudi yang juga asyik bercengkrama. Seolah tak mempedulikan kedatangan saya, mereka menikmati suasana di beberapa sudut bukit Tanjung Papuma, melihat gugusan atol dan deretan ombak dari ketinggian.
Beberapa menit kemudian, dua orang petugas Wanawisata berseragam menyusul naik. Mereka ramah dan bersahabat, meski tampak garang dengan setelan baju hijau. “Tempat ini, memang ramai. Jadi favorit anak-anak muda pacaran, Mas. Jadi harus
sering diawasi, jangan sampai mereka berbuat yang tidak-tidak,” tutur Solekan (45) salah seorang petugas.
sering diawasi, jangan sampai mereka berbuat yang tidak-tidak,” tutur Solekan (45) salah seorang petugas.
Sekitar 20 menit berlalu tanpa terasa. Tak terasa, sebotol besar air mineral dan 3 bungkus roti gulung yang jadi ‘ransum’ saya tandas, untuk ngobrol bersama Solekan dan Seturiyono, dua petugas itu. Keduanya lantas saya ajak bergerak turun.
Mereka dengan senang hati ‘mengantar’ saya dengan motor trailnya menyusuri jalan aspal ke arah barat, menuju kawasan pantai yang baru tahun 2000 lalu dibuka oleh Perhutani dan disebut dengan nama Pantai Malikan. Wajah Malikan bukanlah hamparan pasir hitam atau putih, tapi lebih berupa karang-karang pipih yang mirip kerang raksasa berjajar di sepanjang bentangan pantai yang menghadap ke barat.
Karang-karang kecil berwarna-warni mudah ditemui di sini. Ini merupakan pecahan-pecahan terumbu karang yang terbawa ombak. Bila mujur, kita juga bisa menemukan lobster di sela-sela bebatuan pipih di pantai Malikan. Apalagi bila air laut sedang surut. Udang-udang yang oleh nelayan setempat disebut sebagai urang barong itu memang selalu terdampar saat ombak surut. “Deburan ombak akan membolak-balikan batu yang ada di pantai tersebut. Itulah sebabnya, kenapa pantai itu disebut pantai Malikan,” kata Seturiyono.
Kawasan pantai Papuma dan Malikan juga menyimpan beberapa flora yang bernilai tinggi, seperti kayu Balsa. Kayu jenis itu biasanya jenis kayu yang ringan tetapi memiliki kekuatan lentur yang cukup baik. Kayu ini biasa digunakan oleh para penggemar ‘Aero-modeling ‘ sebagai bahan pembuatan pesawat terbang model, para arsitek dan mahasiswa arsitektur sebagai bahan untuk pembuatan maket bangunan (maquette), karena kayu ini sangat ringan tetapi kuat dan mudah dikerjakan.
Selain itu, kayu cendana yang harum juga masih mudah ditemui di beberapa sudut Tanjung Papuma. Pandan laut dan Palem yang menjadi ciri khas utama tepian pantai Malikan juga mudah kita temui. Kawasan wisata yang tenang ini juga menyimpan
berbagai satwa di antaranya Biawak dan Lutung (kera hitam) yang sesekali keluar dari tempat persembuyiannya.
berbagai satwa di antaranya Biawak dan Lutung (kera hitam) yang sesekali keluar dari tempat persembuyiannya.
Agak masuk ke arah utara kawasan hutan di sebelah Pantai Malikan itu, terdapat peninggalan bersejarah berupa goa eks Perang Dunia II yang masih berdiri tegar menganga. Konon, pada zaman pendudukan Jepang, wilayah Gunung Watangan di sekitar Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma itu sempat dijadikan benteng pertahanan dan pengintaian bala serdadu musuh yang mau menyusup daratan melalui pantai. Benteng Jepang yang berjumlah lima buah tersebut oleh masyarakat setempat disebut sebagai Goa Jepang dan merupakan salah satu lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.
Di samping Goa Jepang, di sebelah Watu Ulo ada sebuah Goa Lawa (Goa Kelelawar) yang dihuni ratusan ribu kelelawar. Goa ini bisa dimasuki oleh pengunjung dengan menyusuri dan melewati pantai berpasir. Karena tempatnya yang sunyi dari keramaian, goa ini sering dijadikan tempat bermeditasi bagi orang-orang tertentu, apalagi mengingat goa ini mempunyai kedalaman 100 meter.
Menurut Cahyono dan Udin, konon, goa ini dipercaya sebagai tempat bersemedinya Patih Nambi.
Setelah sempat melihat-lihat gua Jepang dan kelelawar dari arah luar, kami pun kembali mengitari jalan aspal dalam hutan hingga mencapai puncak perbukitan. Dari puncak bukit akan terlihat jika Tanjung Papuma tersebut berbentuk kerucut.
* Nikmatnya Ikan Bakar
Berwisata di Papuma terasa tak lengkap bila kita tak mengenyam kehidupan nelayan setempat di saat senja tiba. Beberapa jam menjelang matahari terbenam, puluhan nelayan asal dusun Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, selalu tampak menepikan perahu dan jaringnya. Hasil tangkapan mereka berupa ikan kerapu, putihan, kakap, tongkol, maupun tuna, Cumi-cumi dan lobster dapat langsung dibeli dan dibakar di atas perapian alam dari ranting-ranting kayu kering di tepi pantai.
Berwisata di Papuma terasa tak lengkap bila kita tak mengenyam kehidupan nelayan setempat di saat senja tiba. Beberapa jam menjelang matahari terbenam, puluhan nelayan asal dusun Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, selalu tampak menepikan perahu dan jaringnya. Hasil tangkapan mereka berupa ikan kerapu, putihan, kakap, tongkol, maupun tuna, Cumi-cumi dan lobster dapat langsung dibeli dan dibakar di atas perapian alam dari ranting-ranting kayu kering di tepi pantai.
Lelah setelah seharian bermain di pantai ataupun berenang di laut, pengunjung bisa menikmati kelezatan ikan bakar.
Setidaknya ada tujuh warung makan yang menyajikan ikan bakar sebagai menu khas daerah tersebut.”Per kilo ikan bakar kita jual Rp 20.000 sampai Rp 30.000, tergantung jenis ikan yang kita jual. Jika ikannya jenis yang enak ya makin mahal,” ujar P.Lukman (41), salah satu penjual ikan bakar.
Ikan bakar itu disajikan dengan sambal kecap dan terasi. Pembeli bisa membawa ikan sendiri setelah membeli di nelayan atau juga langsung memesan kepada warung-warung yang ada di tempat itu. Selain ikan bakar, es kelapa muda yang disajikan dengan batok kelapanya juga menjadi ciri khas warung-warung di Tanjung Papuma.
Penikmat ikan bakar dan es kelapa muda akan langsung bisa memandang luasnya laut, sebab warung-warung tersebut menghadap hamparan laut. Namun jika makan di pagi atau senja hari, kita akan mudah bertemu dengan beberapa hewan yang dilindungi seperti kera berbulu abu-abu, hitam dan oranye, ayam hutan dan juga biawak. Kera itu keluar dari hutan yang berada di belakang warung-warung tersebut. “Terkadang jadi tontotan anak-anak kecil,” kata P.Lukman. Kera-kera tersebut dengan tenang bergelantungan di pohon-pohon yang tumbuh di dekat warung.
Bagi yang ingin bermalam di kawasan ini, di Pantai Papuma tersedia 21 pondok wisata. Kamar cukup bersih, terawat semua dengan pendingin ruangan, tv dan tersedia air panas dengan tarif Rp.150 ribu. “Tarifnya antara Rp 150.000 sampai Rp 400.000 per malam. Ada yang hanya satu kamar tapi ada juga yang bisa disewa satu rumah untuk satu keluarga seperti vila itu, tarifnya Rp 450.000 tersebut,” kata Solekan.
Sedangkan bagi yang ingin berkemah, tempat wisata ini juga menyediakan lahan untuk camping. “Tetapi jika hanya sedikit orang dan dia minta di pinggir pantai ya kita sediakan juga. Tetapi pagi pukul 07.00 WIB sudah harus dibongkar tendanya karena kita sebenarnya punya lahan camping di belakang wisma,” tambahnya.
Bagi pengunjung yang hobi memancing, dapat menyalurkan hobinya di sepanjang pantai. Bisa juga ikut memancing dengan perahu nelayan pada tempat-tempat pencarian ikan atau menggunakan perahu sewa, tentunya pada musim yang memungkinkan, yaitu pada saat ombak sedang bersahabat.
Hari menjelang magrib. Cuaca cerah kini kembali memudar. Mendung tebal tampak mulai bergulung ditimpali angin kencang.Ini pertanda hujan akan kembali mengguyur kawasan itu. Saya memutuskan untuk kembali pulang, kembali memacu motor menerobos kawasan hutan Watangan, naik turun perbukitan, dan meluncur melewati jalur utama Desa Sumberrejo. Rasa pegal di pundak dan pantat karena berjam-jam diatas motor, serasa terobati setelah menikmati kemolekan pantai-pantai Samudera Hindia di pesisir selatan Jember itu.




0 komentar:
Post a Comment